Jumat, 02 April 2021

Jumat, April 02, 2021

Tradisi Megengan disalah satu rumah penduduk di desa Watuagung

Tradisi megengan merupakan salah satu adat istiadat yang sering dilakukan oleh masyarakat desa Watuagung kecamatan Watulimo. Tradisi tersebut dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan Sya’ban sekaligus menyambut kedatangan bulan Ramadan. Megengan biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan sya’ban yang ditandai dengan hari nisfu sya’ban.

Kegiatan tersebut umumnya dilaksanakan dirumah masing-masing atau diselenggarakan secara bersama-sama di masjid terdekat. Berbagai macam jenis ketan, kolak dan apem, takir serta ingkung ayam menjadi sajian yang menghiasi acara megengan. Acara itu dimulai dengan bacaan tahlil serta ritual do’a-do’a yang ditujukan untu arwah para leluhur yang sudah meninggal.

Secara historis, tradisi megengan ini asal usulnya masih diperdebatkan. Kalau melihat dari sisi ritualnya tradisi ini merupakan bentuk akulturasi budaya antara Islam dengan adat Kejawen. Meskipun  dalam Islam tradisi ini ini tidak ada penjelasan secara eksplisit dari nash Al-Qur’an ataupun hadis. Akan tetapi tujuan daripada kegiatan ini setidaknya tidak jauh-jauh dari esensi keislaman yaitu menhormati bulan sya’ban dan menyambut kedatangan bulan Ramadan.

Terlepas dari stigma bid’ah terhadap tradisi megengan ini. Ada beberapa manfaat dari aspek social budaya, diantaranya yaitu:

Pertama, dapat mempererat rasa solidaritas antar masyarakat. Melalui megengan masyarakat lebih sering terjalin komunikasi dan silaturohmi. Sehingga timbul rasa empati sosial dan ikatan emosional antar tetangga. Kedua, bulan Sya’ban memiliki kesan royal dan semarak. Dengan adanya kegiatan tersebut antusiasme masyarakat terhadap bulan Sya’ban menjadi lebih ramai. Selain itu, tradisi ini menjadi penanda bulan Sya’ban sekaligus persiapan dalam menyambut bulan Ramadan.

 

Next
This is the most recent post.
Posting Lama

0 komentar:

Posting Komentar